Lucky Buffett

[Rekan-rekan milis,] 

Menurut penganut teori pasar efisien, Mr. [Warren] Buffett ini manusia Lima Sigma (dari konsep standar deviasi di Statistics 101, peluang keberadaan dari manusia seperti ini sebenarnya sangat kecil. 1 sigma=32%, 2 sigma=5%, dst.).

Terus [sehubungan dengan usul di milis tentang pemberian hadiah Nobel untuk Buffett,] perasaan Nobel itu kan buat orang yang memberi kontribusi buat kemajuan umat manusia ya (Mis. untuk pasar modal ada Mr. Sharpe, untuk derivatif ada Mr. Scholes dan Mr. Merton, untuk perdamaian ada Mr. Mandela). Terus kalau Mr. Buffett itu kontribusinya apa ya (maksudnya selain untuk anak istri beliau)? Barangkali entar kalau terpaksanya ada Nobel Keberuntungan, Mr. Buffett akan bisa jadi salah satu nominatornya.

Gimana nggak beruntung wong main saham 40 tahun tanpa manajemen risiko (Mr. Buffett ini nggak pake portofolio, cut-loss, dll. barangkali prinsip beliau “begitu saja kok repot”) beliau bisa secara konsisten mengungguli kinerja indeks. Ibarat melakukan unsafe sex (unggul dalam penghematan biaya safety) tiap hari selama 40 tahun tanpa pernah kena STD.

Jadi menurut penganut teori pasar efisien ini, kinerja Mr. Buffett itu bukan prestasi tapi pure luck, sehingga tidak perlu dikagumi, namun tentu boleh berangan-angan seandainya bisa seberuntung Mr. Buffett :).

Saya sendiri sebagai orang biasa tidak akan mimpi bisa me-replicate kegiatan investasi yang “mission impossible” ini (barangkali Mr. Buffett sendiri juga belum tentu bisa). Prasangka saya, Mr. Buffett ini atas dasar ke-”ndeso“-annya (kediamannya di Omaha, Nebraska) barangkali kurang menghargai risiko sebagaimana mestinya dan bersikap “nrimo” dan secara kebetulan beruntung. Gimana nggak beruntung, wong dari 100 orang paling kaya (versi Forbes kalo nggak keliru) 1993, dia nomer satu dan cuman dia seorang yang kekayaannya berasal dari main saham.

Dan sebagaimana orang-orang “Sekian Sigma”/aneh-tapi-nyata/abnormal lainnya (ekuivalen barangkali dengan orang yang lulus summa cum laude ataupun Hitler misalnya, cuman bukan berdasar “prestasi” atau “kesadisan”, namun “keberuntungan”)  beliau tentu saja menarik untuk di-expose, dan ikut membikin terkenal pendekatan “value investing“-nya Benjamin Graham (masuk golongan fundamental analysis) yang sering dikait-kaitkan dengan beliau.

Bukan berarti merendahkan suatu alat analisis tertentu lho (sebab penggunaan alat analisis apapun oleh seseorang dianggap patut dihormati), tapi sekedar berdasarkan keyakinan bahwa tidak ada alat analisis apa pun yang handal 100%.

Leave a Comment

Security Code: