Kenapa Saya Tidak Percaya Praktisi

[Rekan-rekan milis,]

kalo saya sih, misalnya terpaksanya butuh analisis saham, akan jauh lebih percaya kepada periset empiris, terutama yang akademis (asal mereka antisipasi juga unsur-unsur praktis seperti fee, intervensi pemerintah, monopoli, dll. dalam studi mereka) ketimbang praktisi (broker, analis/oralis pasar modal ataupun investor veteran yang “menang terus” model Warren Buffett ataupun Peter Lynch). alasannya:

  • periset ini bebas dari hidden agenda tertentu (mis. niat jualan software TA, niat jualan reksadana, promosi atas saham yang sudah dia punya, dll.)
  • praktisi kalah sangat jauh dalam hal pengalaman dibanding periset, karena periset menggunakan akses ke data sekuritas dalam periode waktu yang relatif panjang.
  • periset memiliki standar kualifikasi tertentu dan hasil riset teruji validitasnya oleh komunitas yang tingkat kecerdasannya so pasti melebihi bawang merah.
  • praktisi bisa jadi bias berkenaan dengan analisis (atau oralisis) favorit tertentu yang mereka gunakan, sementara kita (yang pernah main saham) pasti sadar bahwa, to a large extent, ada mekanisme stokastik/acak yang melandasi pergerakan saham.
  • berkenaan dengan mekanisme acak tadi, sebenarnya sulit membedakan mana praktisi yang “cerdas beneran” (dalam mengeksploitasi inefisiensi pasar) dan mana yang “cerdas bawang merah” (keberuntungan).

3 Comments to “Kenapa Saya Tidak Percaya Praktisi”

  1. bahar Says:

    setuju sekali Pak.

  2. subhan Says:

    setuju pak

  3. iska Says:

    Masalahnya bukan praktisi atau teorikus but pada apa yg mendekati kebenaran di pasar pada umumnya, klo dilihat lagi praktisi lebih uptodate dan earn to earth dibandingkan dengan teoritikus yg mengawang-awang dan umumnya telat membuat formula yang baru… dan pastinya formula harus melalui sampling praktik terbaru yg biasa dihadapi oleh praktisi

Leave a Comment

Security Code: