Kenapa Saya Tidak Percaya Praktisi
[Rekan-rekan milis,]
kalo saya sih, misalnya terpaksanya butuh analisis saham, akan jauh lebih percaya kepada periset empiris, terutama yang akademis (asal mereka antisipasi juga unsur-unsur praktis seperti fee, intervensi pemerintah, monopoli, dll. dalam studi mereka) ketimbang praktisi (broker, analis/oralis pasar modal ataupun investor veteran yang “menang terus” model Warren Buffett ataupun Peter Lynch). alasannya:
- periset ini bebas dari hidden agenda tertentu (mis. niat jualan software TA, niat jualan reksadana, promosi atas saham yang sudah dia punya, dll.)
- praktisi kalah sangat jauh dalam hal pengalaman dibanding periset, karena periset menggunakan akses ke data sekuritas dalam periode waktu yang relatif panjang.
- periset memiliki standar kualifikasi tertentu dan hasil riset teruji validitasnya oleh komunitas yang tingkat kecerdasannya so pasti melebihi bawang merah.
- praktisi bisa jadi bias berkenaan dengan analisis (atau oralisis) favorit tertentu yang mereka gunakan, sementara kita (yang pernah main saham) pasti sadar bahwa, to a large extent, ada mekanisme stokastik/acak yang melandasi pergerakan saham.
- berkenaan dengan mekanisme acak tadi, sebenarnya sulit membedakan mana praktisi yang “cerdas beneran” (dalam mengeksploitasi inefisiensi pasar) dan mana yang “cerdas bawang merah” (keberuntungan).
June 14, 2007 at 4:08 pm
setuju sekali Pak.
September 29, 2008 at 11:22 pm
setuju pak
May 4, 2009 at 10:40 am
Masalahnya bukan praktisi atau teorikus but pada apa yg mendekati kebenaran di pasar pada umumnya, klo dilihat lagi praktisi lebih uptodate dan earn to earth dibandingkan dengan teoritikus yg mengawang-awang dan umumnya telat membuat formula yang baru… dan pastinya formula harus melalui sampling praktik terbaru yg biasa dihadapi oleh praktisi